RSS

Masa #1

18 Mar

Aku terlahir di sebuah gang kecil yang hingga saat ini tidak banyak mengalami perubahan. Bukan keadaan gang itu yang aku maksud, tetapi masyarakatnya. Masyarakat yang entah berfikir ke arah mana, namun mereka adalah manusia-manusia yang terlalu
mudah puas dengan keadaannya dan kurang memiliki kemauan untuk bekerja keras. Tidak semua seperti itu, namun tidak sedikit yang seperti itu. Aku tidak mau menjadi seperti itu, karena Tuhan menciptakan raga ini agar dipergunakan secara maksimal
segala fungsi dan gunanya, agar kita bisa meraih berbagai macam tujuan kita. Itu yang aku percaya.

Pagi itu aku lahir dalam keadaan tubuh yang kekuning-kuningan, karena mama sempat meminum jamu kunir asam sebelum aku terlahir. Itulah cerita yang sampai saat ini selalu menciptakan senyum kecil untukku. Aku anak terakhir dan anak laki-laki satu-satunya, tidak heran jika pagi itu keluarga, sanak saudara dan tetanggaku menyambut kelahiranku dengan penuh kebahagiaan. Aku adalah anak yang selama ini ditunggu-tunggu, hingga mama sempat mengalami putus asa karena sudah tiga orang anak dan semuanya terlahir sebagai wanita. Bahkan mama sempat sudah tidak ingin memiliki anak lagi karena takut anaknya yang berikutnya juga ternyata seorang wanita. Lucu sekali. Tapi Tuhan memang paling mengerti.

Masa kecilku berpindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lain karena karir Papa yang seorang Guru pada saat itu. Karena aku kerap berpindah-pindah rumah, akhirnya aku mengenal berbagai macam teman. Jika Tuhan mengijinkan, aku ingin sekali suatu saat nanti bisa berkumpul dengan seluruh teman yang pernah aku kenal selama hidupku.

Kota Bogor.

Tubuhku kurus sejak kecil, karena aku tertular penyakit flek (semacam penyakit paru-paru tetapi bukan asma) dari saudaraku. Tapi Tuhan Maha Baik, sekarang aku sudah sembuh total. Hari-hariku semasa kecil sangat akrab dengan obat, buah-buahan, dan mainan. Tiga hal yang sangat terngiang disaat aku menuliskan ini semua. Obat, seperti siksaan yang setiap hari harus aku terima dengan lapang dada. Belum lagi sebulan sekali aku harus kontrol ke rumah sakit. Mimpi buruk untuk anak kecil sepertiku saat itu. Aku sangat takut jika melihat jarum suntik. Namun benda itulah yang justru cukup sering harus aku rasakan menembus kulitku. Disaat Papa mengajakku pergi ke rumah sakit, aku akan mencari seribu alasan untuk tetap berada dirumah. Rumah sakit seperti neraka saja rasanya. Papa adalah pria yang sangat pandai bercerita, kepandaian itulah yang berhasil mengalihkan pemikiranku jika akan pergi ke rumah sakit. Papa menggendongku dan terus melanjutkan ceritanya, aku tidak sadar jika ternyata aku sudah masuk di ruangan Pak Dokter yang sudah siap menyuntikku. Disela-sela cerita itulah proses menyuntik dilakukan. Spontan aku langsung menangis, Papa tertawa dan berkata “Anak lanang gak boleh nangis, sebentar kan? Gak sakit kan? Udah ayo kita pulang le..”. Lega sekali rasanya!

Dalam perjalanan pulang ke rumah, biasanya aku diajak mampir ke pedagang buah atau mainan.

Buah, aku bisa kuat tidak makan nasi seharian asalkan ada buah. Disaat sakit, mama selalu menyiapkan buah di kamarku. Anggur adalah salah satu buah yang paling aku suka. Entah mengapa, setelah besar aku justru jadi jarang sekali memakan buah- buahan. Dewasa ini, terkadang aku membayangkan ada sekeranjang buah di kamarku ketika aku bangun pagi.

Mainan, seperti teman paling setia. Aku seperti memiliki dimensi dan kebebasan berimajinasi disaat aku bersama mainan-mainanku. Tidak peduli seberapa asiknya teman-temanku bermain di luar, aku merasa paling nyaman jika sudah berada di sekitar mainanku. Tapi aku bukan berarti anak yang tidak suka bergaul, aku tetap bergaul dengan teman-temanku, namun sebagian besar waktuku memang kuhabiskan bersama mainan-mainanku. Entahlah, aku hanya merasa lebih bebas berbuat yang aku suka dengan mainan-mainan itu. Banyak sekali koleksi mainanku, “Kamu kalau sudah suka sama satu mainan, tidur pun sampai kamu kelonin”, itu kata Mama. Tidak sampai disitu, mainan pun yang bisa membuatku lebih tenang melihat Mama pergi kerja. Aku cengeng sekali. Aku selalu menangis jika Mama ingin berangkat kerja dan mainanlah kuncinya. Sebelum Mama berangkat, biasanya aku terlebih dahulu dibelikan mainan. Terbangun di pagi hari lalu memanggil-manggil Mama dan ternyata tidak ada jawaban, itulah hal yang sangat aku takuti. Mama sudah berangkat kerja sebelum aku terbangun.

Tibalah saatnya aku memasuki dunia baru, dunia sekolah. Tidak banyak yang aku ingat pada masa itu selain bermain dan ranking satu dikelas ketika aku duduk di kelas satu SD. Bangga sekali.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2013 in BEBAS

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: